Friday, August 31, 2012

External Entity



  • External entities are people, places, or things which interact with the application. 
  • Usually, we identify titles/roles (e.g.,  Customer), departments (e.g., Accounts Receivable), organizations (e.g., Medicare Administration), or applications (e.g.,  Accounts Receivable Application) as entities. 
  • The phrase 'interact with the application'  has a very specific meaning.  
  • The entity is  outside the control and/or processing being modeled for the  current application.  That is,  external entity processing, procedures, and data are not subject to analysis or change. 
  • Relationships between external entities are  not shown on the diagram(s) (i.e., external entities cannot connect to  each other).
  • if you are modeling an  order processing application that does not do inventory control, the warehouse would be on the context diagram.  
  • If inventory  control  and  warehouse  processing  are within the scope of the application, the warehouse would not be on the context diagram


Dictionary of External Entity
  • Entity Name
  • Aliases
  • Definition
  • Relationship to Application
  • Contact, if entity is an organization


Sumber: Conger, 2008

Friday, August 17, 2012

Contex Diagram


Introduction:

  • A context diagram depicts the scope of the project, using circles, squares, and arrows.  
  • A large circle  designates  the  application. 
  • Squares  identify external entities  with  which  the application must interact.  
  • Directed lines are the data flows  which indicate movement of data between entities and the application.

Rules:
  • Define the boundaries (i.e.,  scope) of the application. Specifically, define what the application will do and what it will not do.  Draw the circle identifying the application and write the application name in the center. 
  • Using the application boundary as  a starting point, identify all external entities with which the application must interact. For each entity, draw one square on the diagram and label the square. 
  • For each entity, create a definition in the data dictionary. 
  • For each external entity, identify the specific data flows  that define the interface. 
  • For each data flow,  create a definition and list of tentative contents in the data dictionary. 
  • For a complex application, you might need two levels of context  diagrams.  
  • One level  summarizes all entities with directed arrows  that are unlabeled. 
  • The other level shows input flows  on one diagram, and output flows  on the other diagram with labeled data flows  on both diagrams.
Sumber: Conger, 2008

Thursday, April 26, 2012

Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) pada Unit Layanan Pengadaan (ULP)

Terminologi Pengetahuan (Knowledge) pertama kali diperkenalkan oleh Henry pada tahun 1974 yang mengungkapkan adanya perbedaan makna dan adanya transisi dari data, informasi hingga menjadi knowledge (Wallace, 2007). Adapun istilah manajemen pengetahuan (knowledge management) yang dikenal luas di dunia bisnis adalah suatu pengelolaan sumber daya untuk dapat menangkap, menyimpan, menyebarluaskan dan menggunakan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki organisasi untuk menjadikan organisasi lebih baik dari waktu ke waktu (Smith, 1971 dalam Wallace 2007; Dalkir, 2005; Nonaka dan Takeuchi, 1995).

Manajemen pengetahuan saat ini tidak hanya dikenal dalam perusahaan swasta (private sector) tetapi juga sudah dikenal pada organisasi pemerintahan (public sector). Setiadi, dkk (2011)  mengungkapkan bahwa penerapan manajemen pengetahuan di organisasi pemerintahan hampir sama dengan organisasi swasta. Perbedaannya, organisasi swasta tujuanya adalah profit, sedangkan organisasi pemerintahan tujuan akhirnya adalah peningkatan layanan publik.Sejumlah literatur menunjukkan bahwa organisasi pemerintahan telah menginisiasi penerapan manajemen pengetahuan (Syed-Ikhsan dan Rowland, 2004; Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, 2011; Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 2012). Penerapan manajemen pengetahuan pada organisasi pemerintahan ditujukan untuk mempermudah proses penciptaan, pengumpulan, penyimpanan, dan berbagi-tukar pengetahuan (knowledge sharing), menutup kesenjangan pengetahuan antara satu karyawan dengan karyawan lainnya dan meningkatkan kemampuan organisasi dalam mengelola aset intelektual, pengetahuan dan pengalaman yang ada (Bappenas, 2011; Ningky, 2010).

Penerapan manajemen pengetahuan, khususnya pada organisasi pemerintahan di Indonesia sampai awal tahun 2012 belum masif karena baru dikeluarkannya pedoman pelaksanaan program menajemen pengetahuan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi pada tahun 2011. Selain itu, penerapan manajemen pengetahuan belum menyentuh ke unit-unit organisasi pemerintahan, yakni Kantor/Lembaga/Pemerintah Daerah/Instansi (K/L/D/I). Penerapan manajemen pengetahuan masih diperuntukkan untuk Unit Pengelola Reformasi Birokrasi Nasional (UPRBN) dalam mengelola forum manajemen pengetahuan yang dapat dimanfaatkan sebagai knowledge sharing yang berguna baik dalam perumusan kebijakan reformasi birokrasi nasional dan juga sebagai benchmarking bagi Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah (Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, 2011).

Penerapan manajemen pengetahuan yang dilakukan UPRBN tentu belum bisa memberikan hasil yang optimal dalam mengelola pengetahuan organisasi pemerintah. Idealnya, penerapan manajemen pengetahuan langsung diterapkan pada seluruh atau sebagian K/L/D/I yang banyak mengelola pengetahuan dalam bentuk inovasi atau peraturan-peraturan. K/L/D/I yang banyak mengelola inovasi atau peraturan-peraturan. Manajemen pengetahuan di sini diperlukan agar organisasi mampu melaksanakan fungsinya secara efektif akibat tidak adanya gap pengatahuan pada setiap elemen organisasi.

Salah satu organisasi pemerintah yang relevan menerapkan manajemen pengetahuan adalah lembaga pengadaan (procurement) (Bappenas, 2011). Lembaga pengadaan ini adalah Unit Layanan Pengadaan (ULP), yakni unit organisasi pemerintah yang berfungsi melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa di K/L/D/I yang bersifat permanen, dapat berdiri sendiri atau melekat pada unit yang sudah ada (Republik Indonesia, 2010). ULP relevan menerapkan manajemen pengetahuan karena dalam melaksanakan tugasnya, staf ULP harus memiliki pengetahuan yang utuh terhadap semua aturan-aturan Pengadaan Barang/Jasa dan best practice dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa. Kurangnya pengetahuan staf ULP terhadap kedua aspek tersebut, terkadang menyebabkan staf ataupun pimpinan lembaga pemerintah terjebak dalam kasus hukum.

Selain karena ULP mengelola pengetahuan yang sangat dinamis dari waktu-kewaktu, struktur organisasi ULP dikelola oleh gabungan orang-orang dari berbagai instansi sehingga budaya (culture) berbagi (sharing) pengetahuan mutlak diperlukan untuk menjadikan pemahaman setiap staf menjadi utuh. Disamping itu, struktur organisasi yang relatif ramping dan baru terbentuk di semua wilayah menjadikan ULP relatif mudah untuk menerima penerapan sistem manajemen pengetahuan, dan ini tentunya berbeda dengan organisasi yang telah lama terbentuk yang terkadang memiliki retensi terhadap perubahan atau penggunaan sistem baru. Dengan demikian, apabila pemerintah hendak menerapkan manajemen pengetahuan pada K/L/D/I maka ULP adalah salah satu organisasi yang sangat relevan untuk segera menerapkannya.

Penerapan manajemen pengetahuan pada ULP memerlukan persiapan yang baik. Berdasarkan Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Pengetahuan, ada tiga tahapan utama dalam implementasi manajemen pengetahuan, yakni tahap perencanaan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi serta penyempurnaan manajemen pengetahuan (Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, 2011). Tahap perencanaan tersebtu tersusun dari sejumlah tahapan: (1) Identifikasi konteks manajemen pengetahuan dalam organisasi; (2) Identifikasi praktek manajemen pengetahuan dalam organisasi; (3) Identifikasi dan melakukan analisis terhadap para pemangku kepentingan; (4) Perumusan strategi manajemen pengetahuan; (5) Pengembangan strategi manajemen perubahan; dan (6) Pengembangkan strategi implementasi manajemen pengetahuan.

Panjangnya tahapan penerapan manajemen pengetahuan mengindikasikan bahwa manajemen pengetahuan tidak dapat serta merta langsung diterapkan di ULP. Selain itu, oleh karena staf ULP tidak semuanya memahami konsep manajemen pengetahuan, maka diperlukan pihak lain di luar ULP yang dapat membantu penerapan manajemen pengetahuan. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud mengkaji tahap perencanaan manajemen pengetahuan untuk ULP. Melalui kajian ini diharapkan membantu secara khusus ULP dan secara umum Pemerintah Indonesia untuk melihat lebih teknis apa-apa yang perlu dipersiapkan dalam penerapan manajemen pengetahuan pada level K/L/D/I.


Wednesday, February 8, 2012

Download Buku Gratis :: Library.nu ::: Off

Sejak dulu sudah terbiasa download buku teks secara gratis, abisnya uang cekak kalau untuk setiap buku harus beli antara 500 ribu s.d. 1,5 juta.
Awalnya download buku dari gigapedia.com yang kemudian berganti nama menjadi library.nu.
Sejak november 2011, library.nu sudah menutup proses registrasi, namun alhamdulillah saya sudah memiliki akun sejak jaman gigapedia sehingga tetap saja nyaman tarik sejumlah buku sampai dengan awal februari kemaren. Parahnya ketika kemarin istri mengeluh bahwa tidak ada lagi tombol untuk login dan benar ketika saya mencoba lihat, tidak ada link untuk login.
Kemudian coba cari buku, masih bisa sih... cuman sayangnya tidak lagi disediakan link untuk download hiks hiks sedih bangeet.
Wahhh seperti harus  cari info ke teman2 untuk dapat situs yang bagus lagi...

Wednesday, December 28, 2011

Penilaian Tugas Akhir

Penilaian tugas akhir di Jurusan Teknik Industri UNS sebenarnya sudah cukup bagus, namun dalam proses penilaiannya bisa tidak sebagus apa yang terlihat. saat seminar atau sidang, komponen penilaian terdiri dari Presentasi (20%), Penulisan Laporan (20%), Diskusi Tanya Jawab (40%) dan Topik dan Materi (20%). Kemudian nilai itu merupakan rata-rata dari penilaian 4 dosen penguji. Adapun nilai akhir tugas akhir merupakan gabungan dari nilai seminar, nilai sidang, dan nilai bimbingan tugas akhir yang bobotnya saya lupa. Nilai bimbingan itu sendiri terdiri dari 2 komponen yaitu nilai proses pembimbingan dan nilai kuliah mandiri.

Permasalahan yang menurut saya krusial adalah justifikasi dan bagaimana ukuran presentasi, penulisan laporan dan diskusi tanya jawab dapat dinilia bagus ? Secara khusus komponen keempat topik dan materi layaklah dinilai bagus semua karena sudah melalui proses penyaringan dan diskusi panjang untuk bisa disetujui sebagai sebuah tugas akhir. Kembali pada ketiga komponen tersebut, menurut saya tidak ada standar baku pada ketiganya, misal standar sebuah penulisan laporan berkategori baik atau kurang baik. Lagi-lagi disini menuntut kejelian dan objektivitas 4 dosen penguji atau penilai. Meski demikian, sangat mungkin subjektivitas memberi andil sangat besar dalam penilaian itu.

Epilog:

Malam yang bergerak terus diiringi suara nasyid mengalun merdu, Teringat diri akan kondisi dimana terkadang “dosen” yang memberikan nilai tanpa memperhatikan komponen penilaian dan lebih kepada subjektifitas terhadap personal mahasiswa. Apapun itu, diri ini berpesan kepada adik-adik mahasiswa agar tunjukkanlah semangat “effortdalam belajar dan berusaha memberikan yang terbaik bagi Tugas Akhir kalian, bukan merasa cukup dan merasa sudah tidak mampu. Yakinlah bahwa dalam tugas akhir selalu saja ada kelemahan dan kekurangan, itu wajar bagi sebuah penelitian. Jadi teringat pesan dosen dahulu bahwa tugas akhir itu boleh salah dan lemah, namun tidak boleh bohong atau manipulasi.  Yakinlah pula bahwa semangat berusaha lebih tinggi nilainya bukan saja bagi kesuksesan tugas akhir, namun lebih jauh bagi kesuksesan di dunia kerja. Oleh karena itu wajar apabila dosen memberikan nilai berdasarkan pengamatan terhadap effort yang kalian lakukan, baik effort dalam menulis maupun menjawab diskusi…

Yuup   kembali menikmati alunan nasyid yang bagus-bagus dari radio…

“Cucuran air mata yang ingat dosa2, ingin rasanya mengulang masa disaat waktu yang sia-sia”